Jumat , 16 November 2018
Breaking News
previous arrow
next arrow
PlayPause
Slider
Home / Berita / Surat Pembaca / Living In Harmony With Disaster

Living In Harmony With Disaster

SNN – Cincin api pasifik atau lingkaran api pasifik (ring of fire) adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi
dan letusan gunung berapi, yang mengelilingi cekungan samudera pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan
mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa pasifik. Negara kita,
Indonesia, termasuk di dalamnya.

Lantas… apa setelah tahu kita lahir dan tinggal ditempat yang rawan gempa, gunung meletus dan tsunami, termasuk
juga bencana alam lainnya seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan kebakaran hutan, terus kita
menyesal, terus mau pindah dari Indonesia? Tentu saja tidak. Kita harus terima, syukuri dan hadapi itu. This is my
country !

Mitigasi bencana adalah salah satu upaya tanggap bencana. Ini berkaitan dengan pengetahuan saat tanda-tanda bencana akan muncul dan tindakan yang harus dilakukan pada saat bencana terjadi.

Sedikit berbagi pengalaman. Saya salah satu korban selamat gempa tsunami Aceh 2004. Bersama 23 anggota, kami turut digulung-gulung ombak tsunami, 6 orang anggota menjadi korban. Waktu itu benar-benar kita tidak tahu apa itu tsunami, apa tanda-tanda awal akan terjadinya, bagaimana langkah antisipasinya, dll. Memang saat itu sangat minim sosialisasi tentang tsunami. Setelah tsunami Aceh 2004, barulah pemerintah dan masyarakat “melek” tentang tsunami.

Waktu saya dinas di Padang tahun 2013, ada hal menarik yang saya lihat dilakukan oleh Pemda dan masyarakat sana. Ada
semacam prosedur tetap (Protap) peringatan bahaya gempa tsunami dibuat, disampaikan setiap kali akan dimulainya
suatu pertemuan/rapat/acara di dalam gedung.

Oleh protokol akan disampaikan tentang wilayah kita yang rawan gempa dan tsunami, apa yang harus dilakukan apabila
saat acara berlangsung nanti terjadi gempa, dimana pintu keluar dan pintu darurat, dimana titik berkumpul, jalur
evakuasi, dst. Ngak sampai 3 menit penyampaiannya.

Bagaimana halnya dengan Bengkulu? Bengkulu juga daerah rawan gempa dan tsunami seperti hal nya Padang. Provinsi ini
membentang sepanjang pantai barat Sumatera, dengan panjang garis pantai kurang lebih 525 km, tapi sepertinya sangat
minim upaya mitigasi bencananya. Selama berdinas di Bengkulu, protap itu belum pernah saya lihat dilaksanakan, dalam pertemuan/rapat/acara apapun di dalam gedung. Ada apa dengan orang Bengkulu?

Sama halnya protap di pesawat komersil yang dilaksanakan oleh para pramugari sebelum pesawat take off. Selalu
disampaikan soal keadaan darurat, pintu keluar, tindakan penyelamatan di air, dll. Walaupun mungkin kita sudah
tahu/bosan mendengarnya.

Demikian juga dalam hal latihan penanggulangan bencana alam (latgul bencal), yang biasanya dilakukan bersama antara
TNI, Polri, SAR, BPBD, Tagana, Pramuka, Ormas, dll.

Latihan biasanya dilakukan dalam suatu skenario latihan. Yang menurut saya selama ini terlalu standar. Yah, latihan
dalam situasi normal, dimana personel, alat peralatan, sarana prasarana dan dukungan lainnya dalam keadaan sehat, tersedia lengkap dan cukup.

Padahal kalau misalnya bencana itu benar-benar terjadi (tentu saja tidak kita harapkan terjadi), apakah skenario yg
biasanya dilatihkan selama ini bisa berjalan?

Bagaimana seorang personel SAR akan lapor ke markas kalau rumahnya roboh, anak istrinya belum tahu keberadaannya, seorang pengemudi ambulans akan membawa mobil ambulans sedangkan mobilnya sudah ringsek ditimpa gedung, seorang kepala daerah mau kasih instruksi ke FKPD/OPD sedangkan jaringan komunikasi terputus sama sekali karena tower BTS banyak yang roboh?

Sesekali perlu dirancang latihan dalam situasi yang darurat/chaos, sehingga apabila bencana itu benar-benar terjadi,
proses tanggap bencana masih tetap bisa berjalan, walaupun dengan tertatih-tatih, karena sudah ada plan A, B, C, dst.

Sumber : David Suhardi

 

About adminSNN

Check Also

Rasa!

SNN – Sulit menyimpulkan atau menggambarkan tentang rasa, apalagi berkenaan dengan jiwa, sebab beda jauh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *