Rabu , 14 November 2018
Breaking News
previous arrow
next arrow
PlayPause
Slider
Home / Nasional / Perempuan-Perempuan Tangguh Dengan Menjadi Gojek Online

Perempuan-Perempuan Tangguh Dengan Menjadi Gojek Online

JAKARTA, SNN –  Sri Lestari, perempuan 33 tahun, memulai pekerjaannya sebagai pengemudi Gojek pada Oktober 2015. Banyak calon penumpang menolak menggunakan jasa Lestari karena alasan ia perempuan. Maka dari itu dia terbiasa berunding dengan penumpangnya yang laki-laki. “Tolong jangan cancel ya, Pak,” kata Lestari.

Lestari menuturkan, jika mendapat penumpang laki-laki, tak jarang mereka menawarkan untuk menggantikan tugas menyetir motor. Namun ibu empat anak ini selalu menolak karena baginya hal itu adalah kewajibannya.

“Saya kan kerja. Butuh uang. Itu pekerjaan saya. Makanya saya tolak. Biar saya yang bawa motor,” cerita Lestari dengan logat Cilacapnya.

Baru-baru ini, ia membawa penumpang keturunan Afrika dari Kalibata, Jakarta Selatan ke daerah Pluit, Jakarta Utara. Beruntung ia bisa sedikit berbahasa Inggris, berkat ia pernah menjadi TKW di Malaysia.

Korban Pelecehan Hingga Tindak Kriminal

Tantangan lain yang harus Lestari hadapi adalah ancaman pelecehan seksual dari penumpang. Pernah satu waktu, saat ia mengangkut penumpang laki-laki secara luring, pinggangnya dipegang. Sejak saat itu, ia selalu menjaring penumpang dengan menggunakan aplikasi daring.

“Lebih aman,” katanya.

Menjadi korban penjambretan pun pernah ia alami. Waktu itu ia tengah berkendara di malam hari sehabis mengantar penumpang.

“Kalung saya langsung dijambret. Mereka naik motor besar. Cepat sekali. Untung enggak dibegal. Kalau berkendara baiknya jangan pakai perhiasan deh,” saran Lestari. Maka dari itu, ia keukeuh menghindari jalan layang jika kerja pada malam hari.

Untuk menyempurnakan pelayanan kepada pelanggan, Lestari mengaku sudah khatam jalanan ibu kota sampai pada jalan pintas. “Tiga tahun di jalanan saya menghafal jalanan Jakarta dan berhasil,” aku Lestari.

Hafal Daerah Rawan

Jika Lestari sedang semangat mencari penumpang, maka pukul 9 malam itu, Jannah, perempuan 41 tahun, baru saja pulang ke rumahnya di Ulu Jami, Jakarta Timur. Ia salah seorang mitra pengendara perempuan Grab Bike. Atau yang biasa disebut lady.

Jannah baru menjadikan profesi sopir ojek daring sebagai pendulang rizki utamanya sejak tujuh bulan lalu. Dalam tujuh bulan itu, wanita yang kerap ‘mangkal’ di kawasan Bangka, Jakarta Selatan itu sering mendapat tawaran untuk digantikan mengemudi.

“Iya banyak yang nawarin gantiin. Yaudah saya terima aja. Mereka segan diboncengi perempuan. Mau itu laki-laki atau perempuan ya,” kata Jannah.

Tak ada tantangan berarti selama ia menjalani pekerjaan yang didominasi laki-laki itu. Diskriminasi maupun pelecehan seksual tak pernah ia alami. Hanya saja, ia harus pandai-pandai mengemudi saat berada di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Banyak kontainer besar. Bikin takut juga sih. Jadi lebih hati-hati di jalan,” ujarnya.

Tetap Bekerja Meski Hamil Sembilan Bulan

Jannah merupakan orang tua tunggal. Setelah bercerai dengan suaminya, ia kini harus menafkahi ketiga anaknya sendirian. Beruntung si sulung sudah mandiri dan mampu menghasilkan duit sendiri.

Ia memilih menjadi pengojek online lantaran jam kerjanya yang fleksibel dan pendapatan yang lumayan. Setiap hari ia akan mengurus kebutuhan anak-anaknya dulu, baru pergi ‘narik’ sekitar pukul 9 pagi.

Lagipula, katanya, tak ada perusahaan yang mau merekrut dirinya yang tak lagi berusia muda. Ojek online hadir memberinya kesempatan itu. Bekerja di jalanan juga memungkinkan dirinya mengurus anak-anak jika berada dalam keadaan darurat.

Anak sulungnya kerap khawatir dengan pekerjaan Jannah yang harus berjibaku di jalanan ibukota yang jauh dari kesan ramah. Terlebih dengan usia Jannah yang tak lagi muda.

Hal yang sama juga dirasakan Lestari. Saat ini suaminya tak lagi bekerja. Padahal masih ada empat mulut mungil yang harus diberi makan. Medio Desember 2017 ia baru melahirkan anak keempatnya.

“Waktu hamil sembilan bulan, saya masih narik. Lumayan uangnya untuk biaya persalinan,” kenang Lestari.

Meski Lestari telah berperan seperti seorang kepala keluarga, namun suaminya akan kesal jika mendengar istilah itu. Beruntung suaminya juga membantu mengurus anak kendati pekerjaan domestik lainnya tetap harus ia yang kerjakan.

Memilih jam kerja di sore hingga ke malam hari adalah pilihan yang ia lakukan secara sadar. Dengan begitu, ia dapat mengurus keluarganya di pagi hari hingga siang baru setelah beres ia akan keluar ‘narik’ mulai pukul 3 sore. Biasanya ia akan kembali pada pukul dua pagi.

SUMBER

 

About adminSNN

Check Also

Tidak Terima PUK-SPAI-FSPMI Karyawan Perusahaan Ancam Mogok

BENGKULU UTARA, SNN – Perusahaan Terbatas (PT) Sawit Mulya Menolak Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *